Politik Kampus ala Mahasiswa

“Kejahatan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”

Siang ini saya membaca rundown acara kongres mahasiswa di kampus, yang rencananya akan diadakan di sebuah tempat wisata yang berudara sejuk selama 3 hari 2 malam. Hebat benar kongres mahasiswa kali ini, mereka sudah mulai meniru gaya-gaya pejabat pemerintah dan partai politik yang biasa mengadakan kongres atau rapat-rapat di hotel dan tempat wisata. Apakah kampus kurang representatif untuk tempat kongres dan sidang pleno yang paling dihadiri oleh 30 mahasiswa. Ah, rupanya gaya hedonis juga sudah mulai merambah mereka.

 

Mahasiswa Informatika yang rajin dan kritis... Sip dah....

Agenda kongres mahasiswa kali ini berlangsung 3 hari dengan hari pertama berupa check-in,  pembukaan kongres dan sidang pleno pertama. Entah apa isi sidang pleno pertama ini, karena tidak ada keterangan pada rundown acara. Sedangkan hari kedua dimulai dengan pengesahan presidium sidang, pembahasan dan pengesahan AD/ART, dan pembahasan serta pengesahan GBHO. Hari kedua juga diisi dengan LPJ BEM dan DLM pengurus lama. Sedangkan hari ketiga, dilakukan pembentukan KPU dan pemilihan BEM dalam kongres sebelum akhirnya konres ditutup dengan menghasilkan pengurus baru.

Agenda kegiatan kongres ini terbilang aneh. Keanehannya adalah pada adanya keinginan dari sebagian pengurus untuk mengubah AD/ART agar pengurus BEM dan DLM dipilih dalam kongres dan bukan dilakukan dalam bentuk pemilu raya mahasiswa. Menurut beberapa sumber, BEM universitas mulai dikuasai oleh kelompok tertentu. Rupanya BEM kampus sudah mulai tercemar politik kampus yang sektarian. Mereka ingin menguasai kampus dengan cara yang bertentangan semangat reformasi yang dahulu digerakkan oleh mahasiswa tahun 1998. Hasil reformasi 1998 saja akhirnya mendorong berbagai pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. Lah, mahasiswa kampus sendiri malah sekarang ingin membuat pemilihan perwakilan dan tidak langsung dipilih oleh masyarakat (mahasiswa) kampusnya.

Apakah ada udang di balik iwak peyek dengan adanya perubahan sistem pemilihan BEM universitas? Ataukah aktivis kampus sudah mulai tepengaruh politik praktis yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan? Ataukah ada hal lain yang memang tampak samar-samar dari kongres yang akan diadakan di Tretes ini.

Benar-benar mahasiswa yang aneh.

This entry was posted in Unitomo and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Politik Kampus ala Mahasiswa

  1. mahasiswa_jelata says:

    Hahaha… Nice post, Sir…
    Sebenarnya banyak faktor juga, termasuk faktor historis dan lingkungan sehingga mahasiswa jadi seperti ini. Ada juga aspek psikologis membuat sekelompok mahasiswa menjadi sektarian. Lalu digabung dengan “pembiasan semangat” yang pasti terjadi antar generasi.
    Dan saya sebagai mahasiswa jelata yang tidak setuju dan kalah suara (lebih tepatnya tidak bersuara karena nampaknya jika bersuara malah dianggap pengkhianat) hanya bisa geleng-geleng dan tidak ikutan keanehan mereka.
    Tapi sepertinya enak tuh, itung2 liburan gratis… hehehe.. 🙂

    • choiron says:

      Hehehe.. iya mas… dan dari beberapa teman yg ikut, katanya arus yg memaksa langsung diadakan pemilihan BEM tanpa melalui pemilu raya kalah suara ya. Jadi cuman dibentuk presidium mahasiswa saa untuk persiapan pemilu raya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *