Sekilas IAIN Palangka Raya

Spread the love

Awalnya saya bingung dengan nama kampus ini, di saat banyak IAIN (Institut Agama Islam Negeri) beralih menjadi UIN (Universitas Islam Negeri), kampus ini masih bertahan dengan bentuk dan penamaan lembaganya. Sebagai informasi, IAIN itu khusus menyelenggara pendidikan agama seperti prodi Dakwah, Prodi Tarbiyah, PerbandinganAgama dan sejenisnya. Sedangkan bila dalam bentuk UIN, kampus tersebut boleh membuka prodi selain pendidikan agama, seperti Psikologi, Sistem Informasi dan Ilmu Komunikasi dan prodi umum lainnya. Informasi dari Bapak Dr. Abdul Qodir selaku Warek I, IAIN memang sedang berusaha mengajukan perubahan bentuk dari IAIN ke UIN yang ditargetkan nanti pada tahun 2019.

Saat kunjungan saya di IAIN Palangka Raya untuk memberikan pelatihan, saya merasakan kampus ini cukup luas. Sekitar empat kali lebih luas dari lahan UIN Sunan Ampel di Surabaya, sehingga pengembangan kampusnya masih bisa dilakukan dengan lahan yang masih tersedia. Salahsatu yang sedang dibangun saat ini adalah gedung pascasarjana.

Sulit membuat bangunan di Palangka Raya karena tanahnya yang bergambut – Komplek IAIN Palangka Raya yang luas
Gedung Perpustakaan 3 Lantai yang moderen dan megah
BI Corner di dalam Perpustakaan
Buku-buku kelas berat
Pengaturan Ruang Perpustakaan yang nyaman
Mahasiswa biasa mengerjakan tugas di mana saja
Sandal dan sepatu harus dilepas

Ada banyak hal yang cukup menarik untuk diceritakan terkait kampus IAIN Palangka Raya ini. Pertama bahwa mahasiswanya tidak hanya berasal dari Kalimantan, tetapi ada juga yang berasal dari Jawa, khususnya Lamongan dan wilayah Jawa lainnya. Kedua, sistem administrasi fakultas belum terlokalisasi dalam satu gedung dan menerapkan resource sharing seperti adanya gedung laboratorium terpusat. Ketiga, hampir seluruh gedung relatif baru dan nyaman.

Perpustakaan IAIN Palangka Raya menempati gedung tersendiri yang cukup mewah dan megah didukung dengan adanya sarana dan prasarana yang nyaman untuk belajar. Namun memang masih banyak rak yang masih kosong dan pemanfaatan perpustakaan yang belum maksimal bila melihat adanya komputer layar lebar dan ruang baca yang luas. Rupanya sebagian mahasiswa lebih senang memanfaatkan internet kampus di ruang Laboratorium Internet. Ruangan internet juga dipisah antara ruangan untuk laki-laki dan untuk perempuan.

Yang paling saya suka dari kegiatan kampus adalah, atmosfir akademik mahasiswa untuk menggunakan fasilitas kampus untuk belajar da menyelesaikan tugas. Mereka duduk lesehan di lantai yang memang bersih, karena ada aturan sandal dan sepatu diparkir di depan pintu. Hal ini harus dilakukan karena tanah lebih banyak mengandung pasir, sehingga sepatu harus diparkir di luar. Khusus di Gedung Perpustakaan, disediakan rak sepatu agar penempatan sepatu lebih tertata rapi. Saya sendiri merasakan adanya pasir kasar yang masuk di dalam sepatu.

Laboratorium Internet – Khusus Akhwat
Saya grogi juga masuk di sarang akhwat 😀

IAIN Palangka Raya juga memiliki sebuah masjid besar dan megah 2 lantai yang begitu luas dan dapat menampung jamaah lebih dari 3-4 ribu. Saya sempat foto bersama dan menunaikan sholat jumat di dalamnya. Arsitekturnya yang mengadaptasi ukiran perisai khas dayak dan warna hijau kuning, membuat masjid ini tampak indah dan etnik. Selain itu, tinggi menara masjid yang menjulang, membuat masjid mudah dilihat dari jarak jauh dan menjadi syiar bagi masyarakat sekitarnya.

Masjid Raya Darussalam – Perisai Dayak bernuansa etnik
Ruangan utama Masjid Raya Darussalam
Masjid Raya Darussalam

Demikian kunjungan singkat saya ke IAIN Palangka Raya. Masih banyak yang ingin saya ceritakan mengenai kampus ini, terutama semangat untuk menerapkan ICT sebagai bagian dari ciri kampus yang sadar untuk lebih maju. Selamat dan sukses terus untuk IAIN Palangka Raya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *