17 Agustus dan Kemerdekaan Anak

Spread the love

Hari kemerdekaan yang dirayakan setiap 17 Agustus memang telah berlalu, namun saat membuka kegiatan OSFAK FT 2017 dan bertemu dengan wajah-wajah mahasiswa baru penuh semangat dan harapan, saya jadi teringat konsep kemerdekaan anak yang saya implementasikan dalam keluarga.

Saat putra pertama saya lulus SMP, dia berharap bisa melanjutkan sekolah di SMK Animasi Multimedia. Sebagai bapak, saya tidak melarang atau menganjurkan. Yang saya lakukan hanya membangun dialog dan memastikan apakah dia sadar dan paham dengan pilihannya. Apakah dia paham perbedaan antara SMA dengan SMK dan apa rencana besarnya kedepan. Putra saya bisa menjelaskan dengan gamblang dan paham konsekuensi pilihannya tersebut.

Namun ibunya tidak begitu saja menerima pilihan tersebut. Dia ingin putranya nanti kuliah dan minimal harus menjadi sarjana juga seperti tradisi dalam keluarga moderen yang mengutamakan pendidikan tinggi sebagai investasi. Putra saya anak yang penurut. Jadi saat ibunya mendaftarkannya untuk ikut test masuk SMA, dia mengikuti semua syarat dan prosedur sampai akhirnya diterima di SMA 2 Sidoarjo.

Walau sudah diterima di SMA, harapan untuk bisa sekolah di SMK masih cukup kuat. Putra saya pun meminta ijin untuk mendaftar test masuk SMK. Saat itu memang pendaftaran SMA dan SMK di Sidoarjo dilaksakan berurutan. Putra saya memilih SMK 2 Sidoarjo jurusan Animasi Multimedia dan juga diterima. Pada akhirnya kami sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan dan memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menentukan pilihan hidup mereka.

Demikian juga saat tahun ini putra saya lulus SMK dan akan melanjutkan pendidikannya. Saat SBMPTN memutuskan untuk memilih Teknik Arsitektur, saya hargai pilihannya dan berpesan bahwa apapun pilihan pendidikannya yang penting sungguh-sungguh dan dilaksankan dengan penuh tanggung jawab. Perkara setelah lulus bisa bekerja sesuai bidang maupun tidak, itu perkara nanti.

Sebagai orang tua, tugas kita hanya mengarahkan dan memfasilitasi keinginan dan mimpi besar anak-anak. Kami tidak ingin membebani anak-anak dengan mimpi dan harapan kami untuk mereka mau menjadi apa. Yang penting, anak-anak kami paham bahwa pendidikan itu penting untuk mengasah dan memperbesar nilai kemanfaatan diri dengan konsep diri, pola pikir, pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang baik. Saat seseorang punya nilai manfaat, maka pekerjaan dan penghasilan akan datang dengan sendirinya.

Pesan saya, jangan membebani anak Anda dengan harapan dan mimpi orang tua secara berlebihan. Anak-anak kita punya hak dan kemerdekaan untuk mewujudkan mimpi besar mereka sendiri.

Semoga cerita ini bermanfaat bagi Anda sebagai orang tua baru.

#Familyismylife #FamilyFirst

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *