Haji dan Kemulian Seorang Manusia

Spread the love

Suatu hari di musim haji di tahun 80-an, kakek saya (alm) H. Abdul Muin (allahummaghfirlahu) pergi haji dan bertemu dengan orang arab entah dari negara mana. Menurut cerita Kakek, si orang arab yang tinggi besar dan berjenggot ini menertawakan tinggi badan Kakek yang rata-rata seperti orang asia pada umumnya dan tidak berjenggot dan berkumis. Si orang arab bilang ‘pendek’ dalam bahasa arab sambil tertawa. Kemudian Kakek membacakan surat QS. Al Hujurat ayat 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kakek menegaskan bahwa kemulian seseorang itu bukan dari tinggi badannya atau fisiknya serta keturunannya, tetapi dari ketakwaannya. Si orang arab tersebut terdiam malu.

Seperti kebiasaan pada waktu itu, mereka yang berangkat haji, biasanya pulang dengan membawa nama baru yang diberikan oleh syech di Mekkah. Nama kakek Abdul Muin, diberi nama baru dengan nama Abdul Azis Amin Kurdi. Kata ‘kurdi’ cukup menarik perhatian saya, karena merupakan nama suku yang terletak di wilayah Iraq, Turki, Iran dan Suriah. Entah haji jaman sekarang, apakah masih ada pemberian nama baru setelah selesai melaksanakan haji.

#KisahHaji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *