[Kata] Mahar

Spread the love

Mahar dalam Perkawinan

Kata mahar berasal dari bahasa Arab yang artinya “Mas Kawin” dalam Bahasa Indonesia dan Dowry dalam bahasa Inggris. Jadi mahar adalah harta yang berharga yang diberikan oleh seorang pria kepada wanita yang dinikahinya dan menjadi hak kepemilikan penuh dari mempelai wanita. Dalam hukum Islam, mahar merupakan syarat sah pernikahan sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran,

“Bayarkanlah mahar kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian hibah dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa4: 4)

Besaran mahar tergantung dari permintaan mempelai wanita dan keluarganya atau kesepakatan bersama antara mempelai pria dan wanita. Mahar sendiri sebenarnya tidak harus yang begitu besar sampai membebani mempelai pria sehingga tidak sanggup membayarnya, sesuai hadist “Nikahlah engkau walau maharnya berupa cincin dari besi.” (HR. Aḥmad dan Abu Dawud)

Namun terkadang  menjadikan mahar begitu besar karena berkaitan dengan gengsi keluarga, strata sosial dan adat serta budaya setempat. Mesir adalah salah satu negara yang keluarga mempelai wanita biasanya meminta mahar begitu tinggi sesuai budaya setempat, sehingga membuat mempelai pria menunda bahkan membatalkan rencana pernikahannya. Itu mengapa banyak pria jomblo di Mesir berusia lebih dari 40 tahun, karena mereka harus bekerja keras di usia muda, agar bisa menikah walau sudah di usia paruh baya.

Mahar Dalam Dunia Klenik

Masyarakat kita memang memiliki kepandaian dalam menghaluskan dan menyamarkan kata atau sebutan. Sebagai contoh, dahulu ada istilah pelacur untuk sebutan bagi orang uang menjual tubuhnya. Kemudian sebutan ini diubah menjadi WTS (Wanita Tuna Susila) yang dianggap orang yang melanggar aturan kesopanan (asusila). Terakhir berubah menjadi PSK (Perempuan Seks Komersial) yang menghilangkan menilaian sebagai pelanggar kesusilaan.

Demikian juga yang terjadi dalam dunia klenik. Dahulu sebelum tahun 90-an, seseorang yang bergelut dalam bidang gaib akan disebut dukun. Namun karena  dukun lebih bermakna negatif dan irrasional seperti dukun santet, maka sebutannya berubah menjadi paranormal yang tampak lebih intelektual. Kemudian muncul lagi sebutan “orang pintar” dan guru spiritual bahkan kyai, untuk orang yang memiliki kemampuan dalam dunia gaib.

Bila awalnya mahar merupakan istilah dalam perkawinan, kata mahar juga digunakan dalam dunia klenik sebagai kata ganti uang pembelian. Bila dahulu seorang dukun yang memiliki keris, cincin atau jimat sakti akan menerima uang pembelian dari klien-nya tanpa nama, maka berikutnya ada semacam pantangan untuk menjual benda-benda gaib tersebut, sehingga transaksi-nya bukan sebagai jual-beli, namun sebagai barter. Uang yang digunakan untuk membeli pun kemudian disebut mahar. Tidak heran bila Anda membaca iklan-iklan dukun yang menjual rompi ontokusumo, jimat haikal akbar, kul buntet dan benda-benda pusaka lainnya, akan menemukan istilah mahar di iklan tersebut. Kata mahar digunakan sebagai pengganti, untuk membuat transaksi dunia klenik tersebut tidak terkesan komersial.

Mahar Dalam Dunia Politik

Sejak era reformasi dan pemilihan kepala daerah secara langsung, posisi partai politik berubah menjadi kendaraan politik untuk mencapai tujuan kekuasaan. Mereka yang mau maju dalam pemilihan kepada daerah, harus mendapatkan dukungan partai politik, akibatnya partai politik menawarkan dukungan dengan tidak gratis alias meminta uang kepada orang uang akan dicalonkan. Uang tersebut awalnya tidak hanya dikenal sebagai uang kontribusi calon kepada partai politik pengusungnya. Namun 10 tahun ini, uang balas jasa dukungan tersebut lebih dikenal sebagai mahar. Seolah-olah calon kepala daerah membuat akad pernikahan dengan partai politik. Ini juga sebagai penghalusan untuk istilah uang pelicin, uang suap atau uang balas jasa.

Demikian tentang kata mahar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *