Jangan Beri Nama “Achmad”

Spread the love
Pencarian Makna Kata di Google

William Shakespeare berkata, “What’s a name” yang menegaskan apalah arti sebuah nama. Menurutnya, bunga mawar akan tetap bunga mawar yang indah dan harum walau pun kita beri nama “tembelek kingkong”. Mungkin maksudnya adalah bahwa kualitas seseorang tidak dipengaruhi oleh bagaiman orang lain memberikan nama atau label ya.

Namun dalam Islam, memberi nama anak-anak dengan nama-nama yang baik dan memiliki arti baik itu sebuah kewajiban. Kita juga dianjurkan untuk memanggil orang lain dengan nama panggilan yang baik pula. Karena nama adalah doa dan harapan.

Bagaimana bila orang tua terlanjur memberi nama dengan nama yang kurang baik? Bila demikian, si anak boleh mengganti namanya dengan nama yang lebih baik sesuai hadist:

“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).

Selain nama dan arti nama yang baik, menurut saya ada beberapa pertimbangan yang orang tua perhatikan dalam memberi nama anak-anaknya. Bukan suatu hal yang serius, tapi penting juga. Loh kok bisa? 😀

Hindari Nama Awalan A

Mengapa judul tulisan ini “Jangan Beri Nama “Achmad”? Dari pengalaman saya yang bernama lengkap Achmad Choiron, nomer absensi saya pasti masuk 2 besar paling awal saat sekolah hingga kuliah. Biasanya kalah dengan nama “Abdul” yang selalu menempati urutan pertama. Masuk dalam urutan awal absensi selalu tidak menyenangkan karena saat guru atau dosen memberi tugas maju ke depan berdasarkan absensi, selalu menjadi orang pertama atau kedua. Akibatnya, adrenalin menjadi lebih terpompa karena maju pertama itu bikin cemas. Faktanya memang kalau maju di urutan 5 atau 10 akan jauh lebih siap dan tampil lebih baik, karena punya cukup waktu untuk persiapan dan belajar dari kesalahan anak yang maju sebelumnya. Oleh karena itu saya memilih nama “Muhammad” untuk nama depan putra saya. Oh iya, saudara-saudara saya semuanya memiliki nama depan Achmad.

Hindari pemberian nama yang memiliki membuat persepsi negatif. Contoh, ada seorang teman kuliah dulu yang bernama “R Pranikah”. Akhirnya namanya menjadi bahan candaan kalau dulu dibuatnya sebelum nikah. Ya pasti orang tuanyalah yang lebih tahu mengapa anaknya diberi nama tersebut.

Selain pertimbangan arti, persepsi negatif, nomer urut di absensi sekolah, sebaiknya nama juga mempertimbangkan jumlah kata untuk pembuatan passport. Passport untuk umroh atau haji, disyaratkan menggunakan 3 kata dalam nama. Misal, Muhammad Audi Choiron. Memang bisa saja menggunakan tambahan ‘bin’ atau ‘binti’ nama orang tua saat pembuatan passport.

Demikian 4 hal yang bisa dipertimbangkan saat memberi nama anak-anak Anda. Semoga menambah wawasan Anda.

2 thoughts on “Jangan Beri Nama “Achmad”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *