HTI Masuk Unitomo?

Spread the love

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi bagaimana saya bisa berinteraksi dengan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang saat ini di Indonesia sudah dilarang dan sudah dilarang juga di puluhan negara Islam lainnya. Sila simak dengan seksama dan dalam tempo yang sesantai-santainya.

Ceritanya dimulai dari lima tahun yang lalu sekitar awal 2013 saya ditelpon oleh seorang ikhwan yang memperkenalkan diri dari HTI. Beliau bermaksud menemui dan mengundang saya untuk acara semacam kajian ilmiah terkait ekonomi negara dan dunia. Saya cukup heran bagaimana beliau bisa tahu saya dan nomer telpon saya.

Akhirnya saat si ikhwan ini bertamu ke kampus, saya pun menanyakannya. Ternyata, beliau tahu saya dari daftar dan jadwal pemateri kultum (kuliah 7 menit) saat kegiatan Ramadan di masjid kampus. Dari sini saya bisa paham mengapa banyak anggota HTI berasal dari kampus. Tim perekrut atau talent scooter benar-benar keliling kampus untuk melakukan rekruitment anggota, atau minimal simpatisan.

Selain komunikasi via WA dan telpon, si ikhwan selalu rajin untuk bertamu ke kampus. Beberapa kali datang dengan membawa pengurus atau anggota HTI dari kampus lainnya. Kami biasanya berdiskusi panjang lebar mengenai hukum syariah, ekonomi Islam, kondisi terkini dan issue-issue lainnya. Setiap kali datang, biasanya membawa tabloid dan majalah HTI seperti Al-Wa’ie.

Terus terang timbul rasa ingin tahu saya tentang seluk beluk HTI. Ini semacam pintu masuk bagi saya untuk memahami fenomena gerakan politik Islam yang saya ketahui sangat gencar dan solid di tahun dua ribuan. Pada dasarnya, saya memang suka belajar dan berdiskusi, jadilah saya mengikuti undangan-undangan HTI, walau tidak semuanya saya suka dan mau mengikuti.

Undangan pertama yang saya ikuti adalah kajian tentang ekonomi syariah yang diadakan di sebuah ruang rapat sebuah universitas negeri di Surabaya. Hal ini awalanya cukup mengejutkan saya, karena bagaimana mungkin sebuah ruang rapat di dalam fakultas, bisa digunakan oleh HTI untuk membuat sebuah kegiatan FGD (Focus Group Discussion). Namun saat melihat siapa saja yang hadir, saya bisa paham karena ternyata ada anggota HTI yang berasal dari fakultas tersebut.

Gerakan penyebaran HTI bagi saya semakin menarik. Selain menyasar sivitas akademika, kegiatan yang HTI buat juga merupaan soft movement dan ilmiah. Misal selain mengadakan FGD, dan seminar, mereka juga mengadakan International Conference yang mengundang pemakalah (call for paper) yang acaranya diadakan di Jakarta. Sebuah undangan seminar pernah saya hadiri juga diadakan di Asrama Haji Surabaya. Sedangkan undangan acara-acara lapangan seperti tablig akbar, pawai dan demo, selalu saya tolak dengan berbagai alasan.

Sepanjang 2013, saya melihat gerakan dan kegiatan HTI masih halus dan persuasif untuk menggalang anggota dan simpatisan. Namun dari pengamatan saya, HTI mulai terjebak pada hard movement saat mulai masuk pada politik praktis berhadap-hadapan dengan pemerintah. Bendera HTI mulai tampak di berbagai demonstrasi menentang pemerintah. Bahkan mulai terlibat di kegiatan demonstrasi di Jakarta bersama FPI, organiasi keagamaan dan partai oposisi lainnya. Kata ‘Khilafah’ mulai diteriakan nyaring di berbagai kesempatan dan menjadi bagian dari kegaduhan di Indonesia. Perubahan strategi ini sebenarnya cukup menarik untuk dikaji dan dituangkan dalam tulisan lain.

Mengapa saya mau saja terlibat di berbagai kegiatan HTI? Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya adalah orang yang suka berdiskusi dan masuk untuk menyelami sebuah fenomena seperti HTI. Saya bukan anggota, tidak pernah dibaiat dan juga bukan simpatisan yang terlibat aktif di berbagai kegiatan. Saat itu saya hanya getting curious dan insting sebagai blogger mencoba mengulik apa di balik HTI.

Salah satu kegiatan lain yang pernah saya ikuti adalah refleksi akhir tahun saat menjelang pergantian tahun. Saya lupa apakah itu awal tahun 2014 atau 2015. Namun yang pasti, lokasi refleksi akhir tahun tersebut diadakan di sebuah masjid di area industri di Surabaya. Maternya masih berkaitan dengan khilafah yang melawan ekonomi liberalis dan kapitalis.

Namun dari semua kegiatan tersebut, ada sebuah diskusi yang menurut saya double surprise yang saya ikuti atas inisiasi HTI di sebuah rumah seorang profesor. Selepas Isyak dari kampus, saya meluncur ke sebuah perumahan dosen tempat kegiatan diskusi tersebut. Selain sang profesor sebagai pemilik rumah, hadir di acara diskusi tersebut, saya dan 3 orang lagi dari HTI. Seingat saya, waktunya menjelang Pilpres 2014.

Dalam diskusi tersebut, saya dan sang profesor lebih banyak diam dan sesekali menimpali apa yang disampaikan oleh seorang tokoh HTI Surabaya. Sepertinya, posisi saya dan sang profesor sama, yaitu sebagai orang yang senang berdiskusi saja di kegiatan tersebut dan menjadi objek yang sedang diberikan pemahaman.

Beberapa topik tentang demokrasi, model kekhalifahan dan hukum syariah menjadi bahasan diskusi. Saya sendiri lebih banyak bertanya tentang bagaimana HTI menyikap perbedaan mazhab dan adanya berbagai aliran dalam Islam?. Kalau kekhalifahan terbentuk, siapa yang jadi khalifahnya, bagaimana kegiatan sholat berjamaah dan kegiatan ibadah lainnya diadakan? Apakah khalifah akan menetapkan satu mazhab saja seperti yang terjadi pada jaman kekhalifahan Abbasiah?

Saya juga menanyakan bagaimana khalifah dipilih kalau tidak dengan model demokrasi seperti saat ini. Menurut ikhwan HTI, khalifah dipilih oleh dewan ulama. Kemudian saya tanyakan lagi, siapa yang memilih dewan ulama tersebut? Bagaimana kalau khalifahnya berbuat dholim atau munkar, apa ada mekanisme menurunkan dan mengganti khalifah yang berkuasa? Sebagai informasi, khalifah bertindah sebagai eksekutif, yudikatif dan legislatif. Trias Politika ada di tangan khalifah. Terus dijawab, dewan ulama yang akan mengingatkan. Saya tanya lagi, bagaimana bila ulama yang ada di dewan ulama tersebut adalah hanya pendukung khalifah karena mereka ditunjuk dan diangkat oleh khalifah. Saya juga menanyakan apakah HTI mengakui kekhalifahan Al-Baghdadi (ISIS), karena tidak mungkin ada dua kekhalifahan. Saya lupa bagaimana ending diskusinya, karena waktu itu tidak ada jawaban yang jelas untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Demo HTI (Dok. http://www.thejakartapost.com)

Tiga tahun terakhir, saya sudah tidak aktif lagi di kegiatan diskusi HTI. Selain saya juga sibuk dengan kegiatan Toastmasters Club, beberapa jadwal diskusi dengan profesor juga selalu batal karena beliau sibuk, sehingga otomatis tidak ada kegiatan.

Yang menjadi pertanyaan saya waktu itu, mengapa saya dikumpulkan menjadi satu dengan sang profesor untuk diajak berdiskusi tentang demokrasi, khilafah dan sistem ekonomi syariah.  Kemungkinan karena ada banyak pertanyaan saya yang tidak bisa didiskusikan oleh ikhwan HTI yang sering datang ke kampus, sehingga saya dibuatkan forum bersama sang profesor yang sebenarnya juga kritis dengan berbagai penjelasan dari ikhwan HTI.

Oh iya. Sepengetahuan saya, di kampus Unitomo tidak ada dosen yang menjadi anggota HTI, karena sepanjang 2013-2016, hanya saya saja yang diajak dan diundang diskusi di kegiatan HTI. Jadi HTI tidak sampai masuk Unitomo. Sementara saya sendiri sudah berbaiat kepada Pak Jokowi selaku khalifah Indonesia. 😀

Demikian sepotong cerita tentang HTI, saya dan sang profesor yang mungkin bisa memberikan gambaran mengapa HTI bisa menyebar di berbagai kampus. Ada beberapa hal lagi yang saya ingin tuliskan, terutama terkait pandangan saya tentang berdirinya kekhalifahan dan sistem pembayaran dalam ekonomi Islam berbasis emas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *