Lagu Cinta

Spread the love

Angin pagi berhembus meniup daun-daun tetumbuhan hijau nan segar. Di belakang rumah, sepasang insan sedang asyik bertemu, berbincang tentang sesuatu. Kerinduan yang menyeruak membuat mereka mencuri-curi waktu, meski terhalang oleh kokohnya pagar bambu.

“Sa, aku sudah ndak sabar nunggu bulan depan. Kita akan jadi raja dan ratu sehari.”
”Bang, ingat! Innallaha ma’asshobirin.”
”Eh, iya Sa. Habis kamu sih, nunduk mulu. Aku kan pingin lihat sepasang mata indah dan senyum manismu. Gitu saja ndak boleh.”
Sa tersenyum lirih, ”Ah bisa aja. Kata Umi, tundukkan pandanganmu dari seseorang yang bukan mahram.”
”Kita bentar lagi kan jadi suami istri, Sa.”
”Tapi tetep saja belum waktunya, Bang.”
” Dulu kita berlarian di sawah sambil bermain lumpur. Umi dan Abimu selalu marah melihat kamu belepotan lumpur. Ingat ndak, Sa?”
“Ingat, Bang. Tapi waktu itu kan aku belum baligh.”
”Eh, iya. Kata Pak Ustadz, jangan berduaan di tempat yang sepi. Di tengah-tengahnya pasti syetan.” Bang tidak kehabisan akal.
”Eh, siapa juga yang berdua-duaan. Nih, aku bawa si Meli, kucing kesayanganku.” Sa menunjukkan Meli, sambil tetap menatap ujung-ujung rumput liar yang mengelilingi kakinya. Bang menghela nafas panjang.
Mereka berdua terkejut mendengar suara deru motor di depan rumah, abinya datang dari pasar. Sa berlari sambil membawa sapu, Bang pun lari terbirit-birit.

Keesokan harinya, mereka kembali bertemu. Pagar bambu yang kokoh berdiri seolah menjadi pengaman bagi mereka supaya tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
”Assalamu’alaikum, Sa,” suara lembut menyapa dari balik pagar.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah, Bang.”
“Gimana, masih sehat kan? Kemarin dimarahi Abi ndak?”
“Alhamdulillah sehat. Ndak dimarahi kok Bang. Abi nggak tahu.”
“Masih ngajak Meli?” tanyanya menyelidik.
“Iya, Bang. Sa takut jika berdua-duaan akan ada syetan.”
Bang hanya geleng-geleng kepala mendengar alasan Sa. Ternyata dia tidak salah lagi, Sa memang gadis yang hampir sempurna. Kata Pak Ustadz, hanya Allah lah yang paling sempurna.
”Aku punya lagu untukmu, Sa. Tadi sekalian kubawa gitar kesini. Mau dengar ndak?”
”Mau mau, Bang,” Sa penasaran dengan lagu yang akan dinyanyikan calon suaminya.

”Denger ya? … satu nusa satu bangsa satu bahasa kita ….” Sa tertawa, sehingga Meli terlepas dari dekapannya. Tak sadar Sa menatap lelaki dibalik pagar itu dengan tawa. Kali ini Bang merasa berhasil membuat Sa memperlihatkan kelembutan dan kecantikan wajahnya yang penuh rona bahagia, berbalut kerudung jingga. Bak bidadari syurga.
”Alhamdulillah ya Allah, Aku tak salah pilih,” Bang semakin terpesona.

”Apa-apan kalian berdua. Sa, masuk! Abi akan hukum Kamu.” suara Abi tiba-tiba mengejutkan mereka. Bang kembali berlari tanpa arah.

Semenjak hari itu, mereka tak pernah bertemu lagi.
Sampai saatnya tiba harus bersanding di pelaminan, menghalalkan hubungan mereka dalam satu ikatan suci nan abadi. Nusa dan Bangsa tersenyum bahagia. Kebahagiaan yang didapat tak lebih karena kesabaran dan pengorbanan mereka berdua selama ini.

TAMAT

Lalai

Spread the love

Pagi yang cerah, aku sedang asyik menonton acara di sebuah stasiun televisi. Terdengar suara keras di depan rumah, membuatku berlari ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.

”Innalillahi wa’inna ilaihi rojiun,” pekikku sambil meraih tubuh Mon yang bersimbah darah. Kubopong lalu membawanya masuk untuk mendapat pertolongan pertama. Tak terasa air mata mengalir membasahi kerudung. Ibu membawakan air hangat dan handuk untuk menyeka luka-luka itu. Luka bagian leher dan kaki yang terlalu parah, kubalut dengan kain seadanya. Setelah terlihat bersih, aku menghubungi seseorang, untuk memastikan apakah dia baik-baik saja.
Mon yang periang, manis dan penurut, tak pernah kubiarkan pergi tanpa pengawasan. Aku terlalu sayang padanya.

Kali ini, aku lupa mengunci pintu, sehingga dia keluar tanpa kusadari. Di pangkuan, kurasakan tubuh yang mulai melemah tak berdaya. Nafas yang berat, mata pun enggan terbuka. Kini rasa kehilangan itu semakin nyata. Air matapun mengalir dengan derasnya. Seorang dokter datang, memeriksa dengan seksama. Namun dia menggelengkan kepala, pertanda bahwa Mon telah pergi untuk selamanya.

”Sabar, Sayang. Ikhlaskan saja dia,” ucap ibu sambil menyentuh lembut pundakku.
”Kasihan dia, Bu. Kenapa harus pergi dengan cara seperti ini?” tangisku pecah, sambil memeluk ibu.

Kami putuskan memakamkannya di halaman belakang rumah. Kutaburkan bunga di atas pusaranya, sambil memanjat do’a. Semoga dia tenang disana.
Selamat jalan Monalisa, anggora kesayanganku.

Gadis di Taman Kota

Spread the love

Tak terasa waktu merayap menjemput malam. Suasana kota bertambah indah dengan kerlap-kerlip lampu di setiap sudutnya. Dimas melangkahkan kaki menuju sebuah halte yang masih porak poranda sejak kecelakaan sebulan lalu. Ya … kecelakaan yang merenggut lima nyawa sekaligus. Beruntung waktu itu dia pulang lebih awal dari biasanya.

Dimas biasa menutup kios bukunya pukul setengah delapan. Di tambah perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, dia masih bisa menikmati makan malam bersama ayah, ibu dan dua adik perempuannya.

Tak seperti biasa, akhir-akhir ini dilihatnya seorang gadis di sudut taman kota sambil membaca sebuah buku. Gadis manis itu seperti sedang menunggu seseorang. Rambut yang tergerai sebahu, ditambah penampilan yang terkesan apa adanya, membuat naluri ke’jomblo’an Dimas merasa bangkit dan tertantang untuk mendekatinya. Namun, semua tak dilakukan karena dia merasa belum punya apa-apa. Penghasilan dari kios buku miliknya belum seberapa, sedangkan kedua adiknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah.

****
“Assalamu’alaikum, Dimas. Kamu belum pulang juga? Lihat sekarang pukul berapa? Ibu khawatir, Nak,” ucap ibu dari balik telepon genggamnya.
“Wa’alaikumsalam, Bu. Iya, ini Dimas beres-beres kok. Hari ini Alhamdulillah pembeli tidak seperti biasanya. Nggak enak kan Bu, ngusir mereka,” jawabnya sembari melirik jam di dinding. Sembilan lebih dua puluh menit.
“Iya, iya. Cepat pulang ya? Hati-hati di jalan, jangan lupa baca do’a.”
“Iya. Do’akan Dimas ya Bu,” ucapnya menutup percakapan, lalu bergegas mengunci pintu.

Dimas mempercepat langkah, ketika pandangannya tertuju pada gadis itu lagi. Masih di tempat yang sama, dengan sikap yang sama, sedang menunggu seseorang sambil membaca buku. Jauh di relung hatinya tak tega melihat seorang gadis sendirian di tengah ramainya kota selarut ini.

“Maaf, Mbak. Sedang menunggu ya?” dia beranikan diri untuk menyapa. Namun gadis itu menoleh, tersenyum tanpa kata. Wajah manisnya terlihat nyata, meski kacamata minus menghias disana.
”Sudah malam Mbak. Apa Mbak nggak takut kalau ada orang jahat?”
“Menunggu siapa kalau boleh tahu,” lanjutnya.
“Saya sedang menunggu calon suami Saya, Mas.” Jawabnya sambil menutup buku yang berada di atas pangkuannya.
“O gitu, ya? Kenapa sampai jam segini belum jemput juga, Mbak? Mending Mbak pulang saja. Bahaya Mbak, malam-malam masih di sini.”
“Nggak, Mas. Saya akan tetap menunggu sampai dia datang. Dia sudah janji akan jemput Saya.” Dimas kehabisan kata-kata. Bahkan tawarannya untuk menelpon laki-laki yang dimaksud, ditolak dengan alasan handphonenya hilang..

Dimas bersikeras menemani, karena takut sesuatu akan terjadi jika gadis itu ditinggal sendirian.
”Mbak, ini hampir pukul sepuluh. Lebih baik Saya antar Mbak pulang. Saya nggak bermaksud apa-apa. Saya benar-benar mau nolong Mbak,” kali ini Dimas setengah memohon.
”Kalau Mas sungguh mau menolong Saya, tolong cari rumah Mas Bara, calon suami Saya.”
”Apa? Lalu membiarkan Mbak di sini sendirian? Ya Allah Mbak, kenapa nggak ngerti juga sih?”
“Please, kali ini saja. Sampaikan ini untuk Mas Bara,” ucapnya sambil melepas cincin yang melingkar di jari manisnya dan secarik kertas berisikan alamat rumah Bara.
“Saya sangat berterima kasih atas pertolongan Mas.”

Dengan berat hati, Dimas pergi menuju alamat rumah yang di maksud gadis itu. Dia merasa bodoh, bahkan tak pernah menanyakan siapa namanya.

Dimas menyusuri perumahan yang di maksud sambil sesekali bertanya pada seseorang yang dilaluinya. “Alhamdulillah, ketemu juga,” gumamnya lega.
Setelah beberapa kali memencet bel, keluarlah laki-laki sambil membawa buku yang sama dengan gadis itu.

“Maaf, cari siapa ya?”
“Saya cari Mas Bara. Nama Saya Dimas.”
“Saya Bara. Ada apa ya?” Sambil mempersilahkan Dimas duduk di ruang tamu.
”Begini, Mas. Saya bermaksud menyampaikan amanah dari seseorang ….” Dimas mengeluarkan cincin dari saku bajunya.
Sepasang mata lelaki bernama Bara itu berkaca-kaca sambil memandang cincin di tangan Dimas. Tanpa diminta, Barapun menceritakan peristiwa yang dialami mereka berdua.

*****
Amelia adalah kekasih yang amat dicintai Bara, bahkan mereka sudah bertunangan. Suatu hari pertengkaran hebat terjadi, karena Amelia ingin bekerja, namun Bara melarangnya. Bara merasa mampu mencukupi segalanya setelah menikah nanti. Tapi Amelia bersikeras mengajar di sebuah LBB. Bara menuruti kemauannya, meski dengan berat hati. Malam sebelum kecelakaan di halte yang merenggut nyawa Amelia, Bara masih terjebak macet, sehingga tak bisa menjemputnya tepat waktu. Semua terjadi begitu saja. Amelia bersimbah darah dalam pelukannya. Menyesal pun tiada guna. Sedang cincin pertunangan itu tak pernah ditemukan di lokasi kejadian Bara masih belum percaya, Allah telah mengambil nyawa Amelia, calon istrinya.

Bulir bening mengalir dari kedua sudut mata Bara. Dimas semakin tak percaya dengan kejadian yang dialaminya. Amelia begitu jelas masih hidup, bahkan sempat berbincang-bincang beberapa jam lalu. Bulu kuduknya merinding mengenang kejadian itu, tapi dia telah berbuat kebaikan. Dering handphone menyadarkannya bahwa ia sedang ditunggu keluarga tercinta.
”Maaf Mas Bara, Saya pamit dulu. Ibu menelepon.”
”Oh, iya Mas. Saya ucapkan terima kasih atas kebaikan Anda.”
”Sama-sama, Mas.”

Sejak malam itu, Dimas tak pernah lagi melihat Amelia. Teriring do’a, semoga dia tenang di alam sana. Aamiin.

Pesan lewat BBM

Spread the love

“Ri, tolong jangan bilang-bilang Mama, ya? Aku mau liburan ke Singapur, bersama Lia dan Dina. Ayah Dina kan tinggalnya di Singapur? Pasti seru banget.”
“Kamu sih, anak Mama, nggak boleh keluar-keluar kayak kita,” lanjut Nanda.

Belum sempat membalas pesan tersebut, Nuri tertidur lelap.
Pagi hari, sebuah berita tentang kecelakaan sebuah pesawat di televisi menghentikan langkahnya, lalu duduk sejenak di depan televisi. BBM dibuka,
“Ri, Kami naik Air Asia QZ8501. Sudah bobok, ya? nanti kuhubungi lagi OK?” pesan itu diakhiri icon senyum bahagia. Tubuh Nuri lemas seketika. Dia tak mampu berkata-kata.

Selang beberapa jam, terdengar berita bahwa sahabatnya telah tiada, menjadi korban kecelakaan Air Asia.
Innalillahi wa’inna ilaihi roji’uun.

Serial Si Baron :1-Preman Insyaf

Spread the love

Tubuh Baron tak gentar seperti biasanya, saat bertemu dengan sosok bersenjata itu. Dia yakin, kali ini benar-benar tidak salah. Kedua tangan pasrah diborgol di belakang tubuh kekarnya.
“Pak, saya mau dibawa ke mana, Pak?”
”Kamu bisa jelaskan semuanya nanti di kantor,” jawab lelaki itu sambil menggelendengnya ke kantor polisi. Baron menurut saja, karena ingin memberi pelajaran pada sosok angkuh nan galak yang selalu menjadi musuhnya.

”Pak, saya telah mengintai dia semingu terakhir. Ternyata dia belum kapok, masih saja menyimpan barang haram ini (sabu),” sambil menyerahkan bungkusan hitam yang ditemukan di dapur rumah Baron tadi pagi.

Baron tak bergeming sedikitpun. Rasa takut pun tak terlihat sama sekali pada wajah sangarnya. Komandan polisi yang membuka bungkusan tersebut malah tertawa, membuat seisi ruangan menatap penuh tanya.

”Lihat barang bukti yang kamu bawa,” sambil menunjukkan isi bungkusan pada polisi angkuh di hadapannya.
”???” dia terkejut mendapati bungkusan tersebut bukan berisi sabu. Baron tersenyum, merasa menang kali ini.
”Lepaskan dia. Dia tidak bersalah.” Polisi angkuh itu melaksanakan perintah komandannya, meski kecewa.
”Masak Pak, saya ditangkap cuma gara-gara nyimpen kopi sama gula? Sudah berkali-kali Saya bilang, bahwa Saya sudah insyaf. Bapak sih, tidak percaya,” ucap Baron tanpa dosa.